MATERI 9 PSIKOLOGI UMUM I

 PENGARUH DARWIN DAN TES MENTAL


A. Pengaruh Darwin

Charles Darwin (12 Februari 1809 – 19 April 1882), memiliki karya The Origin of Species, yang memiliki suatu pandangan baru tentang penciptaan, yaitu evolusi melalui seleksi alam. Hampir seluruh gagasan ilmu-ilmu sosial modern, seperti sosiologi, antropologi, dan psikologi berawal dari asumsi dasar teori evolusi melalui seleksi alam ini. Seiring berjalannya waktu, bukti-bukti dari berbagai bidang membenarkan teori evolusi Darwin, seperti biologi, paleontologi, geologi, genetika, sosiologi, antropologi, dan berbagai disiplin ilmiah lainnya. Teori Darwin mempengaruhi penelitian dalam psikologi. Kontribusi teori Darwin ini pada penelitian psikologi guna melihat korelasi antara dua variabel jika menampilkan arah yang sama.

Darwin (1872) berpandangan bahwa emosi manusia adalah sisa-sisa emosi hewan yang dulunya diperlukan untuk bertahan hidup. Darwin juga mencatat bahwa ekspresi emosi manusia bersifat universal, yang artinya setiap manusia dari belahan bumi mana pun memiliki bentuk pengungkapan ekspresi emosi yang sama. Dengan mengamati karakteristik wajah seseorang di mana pun di muka bumi ini, seseorang dapat menentukan apakah orang itu mengalami kegembiraan, kesedihan, kemarahan, kesedihan, atau emosi lain. Darwin mengubah pandangan lama atau kuno tentang sifat manusia dan hal tersebut mengubah sejarah filsafat dan psikologi. Topik populer dalam psikologi kontemporer dengan jelas mengungkapkan pengaruh Darwin yang kuat:, seperti psikologi perkembangan, psikologi hewan, psikologi komparatif, psikobiologi, pembelajaran, tes dan pengukuran, emosi, genetika perilaku, psikologi abnormal, dan berbagai topik lain. Beberapa tokoh psikologi juga dipengaruhi oleh teori Darwin, seperti  salah satunya pemikir besar Sigmund Freud yang mempopulerkan psikologi di Eropa. Dalam teori insting seksual yang menjadi dorongan terbesar dalam psikoanalisis Freud sejalan dengan teori evolusi Darwin untuk bertahan hidup.

B. TES MENTAL

1. Kesehatan Mental

  • World Federation for Mental Health (1948) menyatakan sehat mental adalah suatu kondisi yang optimal dari aspek intelektual, yaitu siap untuk digunakan, dan aspek emosional yang cukup mantap atau stabil, sehingga perilakunya tidak mudah terguncang oleh situasi yang berubah di lingkungannya. 
  •  WHO (World Health Organization) menyatakan kesehatan mental adalah keadaan sejahtera dimana individu dapat mewujudkan potensi diri sendiri, dapat mengatasi tekanan hidup yang normal, dapat berfungsi secara produktif dan bermanfaat, dan dapat berkontribusi kepada komunitas mereka.

Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kesehatan mental adalah suatu kondisi dari batin individu yang optimal membuat individu dapat menjalani kesehariannya dengan sejahtera, mampu mengontrol diri, dan dapat mengembangkan potensi terbaiknya tanpa mudah terguncang oleh perubahan yang terjadi disekitarnya. Maka untuk mengatasi masalah kesehatan mental, masyarakat di bagian barat mengembangkan gerakan sosialisasi kesehatan mental seiring dengan adanya revolusi pemahaman masyarakat mengenai mental yang sehat dan cara-cara penanganannya.

2. Paradigma Kesehatan Mental

 Menurut Schneiders (1964) Prinsip memahami kesehatan mental, yaitu :

-Tak terlepas dari kesehatan fisik.

-Pemeliharaan tak lepas dari sifat manusia.

-Memerlukan integrasi dan pengendalian diri.

-Keharusan memperluas pengetahuan.

-Memerlukan konsep diri yang sehat.

-Meningkatkan pemahaman dan penerimaan diri.

Paradigma kesehatan mental dalam psikologi dapat dilihat dari kondisi mental yang dipengaruhi oleh faktor psikologis menurut pendekatan-pendekatan dalam psikologi. Dalam pendekatan Psikoanalisa meyakini kesehatan mental dipengaruhi oleh interaksi individu, konflik intrapsikis, dan faktor epigenetik, pendekatan Behavioristik meyakini kesehatan mental dipengaruhi oleh proses pembelajaran dan proses belajar sosial, dan humanistik meyakini perilaku dipengaruhi pleh kebutuhan sendiri dan individu mampu memahami potensi diri dan berkembang untuk mencapai aktualisasi diri. 

3. Tes Mental 

a. Herbert Spencer

Spencer menerapkan gagasan evolusi pada segala sesuatu di alam semesta. Menurut Spencer semuanya dimulai sebagai keseluruhan yang tidak berbeda. Melalui evolusi, diferensiasi terjadi sehingga sistem menjadi semakin kompleks. Gagasan ini berlaku untuk sistem saraf manusia, sederhana dan homogen pada zaman dahulu tetapi melalui evolusi  menjadi dan kompleks. Sistem syaraf yang kompleks memungkinkan manusia untuk membuat lebih banyak asosiasi dan membuat rekaman neurofisiologis  yang akurat tentang peristiwa di lingkungan kita, dan kemampuan ini kondusif untuk bertahan hidup. Prinsip Spencer-Bain tentang mental manusia yaitu, frekuensi perilaku meningkat jika diikuti oleh peristiwa yang menyenangkan dan berkurang jika diikuti oleh peristiwa menyakitkan. Spencer (1857) teori Spencer mengenai evolusi masyarakat  yang  menghubungkan seleksi alam dalam tataran organik ke tingkat social. Teori evolusi spencer teridentifikasi pada dua jenis evolusi sosial terutama berkaitan dengan peningkatan ukuran masyarakat. 

b.  Binet-Simon

Binet adalah seorang psikolog yang terkenal dengan penemuaan Intelligence Quotient atau IQ. Binet mengembangkan sebuah test untuk mengukur usia mental anak-anak yang akan masuk sekolah. Usia mental tersebut merujuk pada kemampuan mental anak pada saat ditest dibandingkan pada anak-anak lain di usia yang berbeda. Tujuan tes ini yaitu untuk mengukur mana anak-anak yang memiliki kecerdasan mental defisit dan mana anak yang harus sekolah dengan memerlukan perlakuan khusus. Menurut Binet sugesti  dan atensi dapat mempengaruhi intelegensi dan untuk menganalisa inteligensi dengan melihat proses mental yang lebih tinggi seperti memori keputusan praktis. Tahun 1904,  Binet dan Simon membuat instrumen pengukur intelegensi dengan skala pengukuran level umum pada soal-soal mengenai kehidupan sehari-hari. Pada tahun 1908 digunakan konsep mental dan dikembangkannya SAT (Scholastic Aptitude Test) dan tes prestasi serta kepribadian di Amerika Serikat. Seiring dengan penerapan teknik statistik menjadikan tes ini dapat dipakai secara luas untuk memecahkan beberapa masalah. 

c. Galton

Galton tertarik dengan teori-teori Charles Darwin dan memfokuskan pada karakteristik msanusia yang merupakan mental capacity.  Galton mengembangkan tes yang tujuan utamanya bukan tentang practical problem. Mental capacity diukur menggunakan suatu konsep waktu dan usia.  Galton menggunakan  pengukuran fisik dan perilaku untuk mengukur fenomena seperti kecantikan, kepribadian, dan pelajaran yang membosankan. Galton menemukan word association yang merupakan tes instrumen dalam psikologi  yang kemudian dikembangkan Carl Jung sebagai alat diagnnosis klinis, tes ini biasanya terdiri dari seratus kata stimulus yang dibacakan satu per satu hingga memungkinkan dengan kata pertama yang muncul. Galton menggunakan daftar 75 word association stimulus yang ia baca dan mencatat tanggapannya. Galton berpendapat bahwa mungkin ada hubungan antara IQ seseorang dengan asosiasi kata. Galton juga memiliki “pengaruh Galton” yang membahas tentang pengaruh genetik  terhadap sifat tertentu dan pembentukan perilaku.

Komentar