MATERI 11 PSIKOLOGI UMUM 1
BEHAVIORISME
Pendekatan Behaviorisme adalah studi psikologi yang menekankan pada kajian ilmiah tentang berbagai respons perilaku yang dapat diamati dan sebagai penentu lingkungannya. Behaviorisme ini dipusatkan pada interaksi manusia dengan lingkungannya yang dapat dilihat dan diukur. Behaviorisme dipimpin oleh J.B. Watson (1878-1958) dan B.F Skinner (1904-1990). Psikolog yang mengadopsi pendekatan ini disebut kaum behavionistik. Skinner menekankan bahwa apa yang kita lakukan merupakan ujian terakhir atas din kita sebenarnya. Dibawah kepemimpinan intelektual J.B Watson (1878-1958) dan B.F Skinner (1904-1990), behaviorisme mendominasi penelitian psikologi selama setengah abad ke-21. Prinsip-prinsip pendekatan perilaku juga diterapkan secara luas untuk membantu orang-orang mengubah perilakunya kearah yang lebih baik (Martin & Pear, 2007; Watson & Tharp,2007). Para kaum behavioristik kontemporer masih menekankan pentingnya mengamati perilaku untuk memahami individu dan terus menggunakan eksperimen yang kuat seperti yang didukung oleh Watson dan Skinner , serta terus menekankan pentingnya penentu lingkungan dan perilaku.
Ciri-Ciri Behaviorisme:
a. Mementingkan
pengaruh lingkungan
b. Mementingkan
bagian-bagian
c. Mementingkan peranan reaksi.
d. Megutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar.
e. Mementingkan
sebab-sebab di waktu yang lalu
f. Mementingkan
pembentukan kebiasaan,pemecahan pemecahan masalah, dan ciri khasnya “trial
and error”.
Tokoh-tokoh
Behaviorisme
1. Ivan Petrovich
Pavlov
Ivan Petrovich Pavlov lahir 14 September 1849 di Ryazan, Rusia. Ia mengemukakan bahwa dengan menerapkan strategi ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya. Pavlov mengemukakan teori Classical Conditioning. Classical Conditioning adalah suatu suatu bentuk belajar yang memungkinkan organisme memberikan respon terhadap suatu rangsang yang sebelumnya tidak menimbulkan respon itu dengan melakukan pengkondisian dan pengulangan. Pavlov mengadakan percobaan terhadap seekor anjing anjing. Saat anjing tersebut dihadapkan pada daging maka anjing tersebut akan segera mengeluarkan air liur. Kemudian pengkondisian kedua adalah, sebelum memberikan daging, Pavlov membunyikan dulu bel sebagai tanda adanya daging, kemudian anjing pun mengeluarkan air liur karena ia dikondisikan untuk tahu bahwa ketika bel dibunyikna maka disitu ada daging. Kemudian pengkondisian ketiga adalah Pavlov hanya membunyikan bel saja namun tidak ada daging, namun tetap saja anjing itu mengeluarkan air liur karena ia tetap mempertahankan kondisi awal ketika dibunyikan bel maka disitu ada daging. Dari teori Pavlov ini dapat dikatakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat yang menimbulkan reaksi dan dalam belajar harus adanya latihan dan pengulangan.
Komponen Dasar Teori Classical Conditioning.
- Unconditioned Stimulus (US)
Stimulus tidak
dikondisikan yang langsung menimbulkan respon. Contohnya daging dapat
merangsang air liur anjing keluar.
- Unconditioned Response
(UR)
Respon tidak
bersyarat yang muncul karena timbulnya US. Contohnya, air liur anjing keluar
karena anjing melihat daging.
- Conditioned Stimulus (CS)
Stimulus
bersyarat yang tidak dapat langsung menimbulkan respon, untuk menimbulkan
respon perlu dipasangkan dengan US berulang-ulang untuk dapat menimbulkan
respon. Contohnya, bunyi bel akan menyebabkan anjing mengeluarkan air
liur jika selalu dipasangkan dengan daging.
- Conditioned Response (CR)
Respons
bersyarat yang timbul karena adanya CS. Contohnya, air liur anjing keluar
karena anjingmendengar bel.
2. Edward Thorndike (1874-1949)
Edward Thorndike yang dikenal dengan teori Koneksionisme. Menurut Thorndike tentang teori belajar behavioristik merupakan teori yang berpandangan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku melalui stimulus respon. Belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya yangbertujuan merubah tingkah laku dengan cara interaksi antara stimulus dan respon. Hubungan stimulus respon ini menurut Thorndike dapat diperkuatdengan adanya kesiapan dalam menerima perubahan tingkah laku tersebut (Law of Readiness), diberikan pengulangan (Law of Exercise) dan diberikan penghargaan (Law of Effect). Thorndike melakukan eksperimen dengan sebuah puzzlebox. Eksperimen yang dilakukan adalah dengan kucing yang dimasukkan pada kandang tertutup yang apabila pintunya dapat dibuka secara otomatis bila tombol di dalam kandang disentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori Trial dan Error.
Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti prinsip-prinsip, yaitu :
- Hukum kesiapan (law of readiness)
Hukum
bahwa semakin siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan
tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah
laku tersebut akan menimbulkan kepuasan
individu sehingga asosiasi
cenderung diperkuat.
- Hukum latihan (law of exercise)
Hukum
bahwa semakin sering suatu
tingkah laku diulang atau dilatih maka
asosiasi tersebut akan semakin kuat.
- Hukum akibat (law of effect)
Hukum
bahwa hubungan stimulus respon
cenderung diperkuat bila akibatnya
menyenangkan dan cenderung diperlemah
jika akibatnya tidak memuaskan.
3. John Broades Watson
John Broades Watson lahir 9 Januari 1878 di Greenville, South Carolina Amerika Serikat. Awalnya Watson tertarik pada filsafat, sebelum beralih ke psikologi karena pengaruh Angell. Akhirnya ia memutuskan menulis disertasi dalam bidang psikologi eksperimen dan melakukan studi-studi dengan tikus percobaan. Tahun 1903, Waston menjadi doctor pertama bidang psikologi di Universitas of Chicago dan di sinilah terbentuknya ide-ide behavioristik. Watson dianggap sebagai pendiri behaviorisme karena pengaruh yang kuat dan sukses mengembangkan ide-ide behaviorisme. Inti pemikiran Watson : psikologi harus berfokus pada perilaku yang bisa diamati, meninggalkan kesadaran, pikiran ataupun keadaan mental. Watson meneliti tingkah laku bayi. Terdapat tiga tingkah laku yang tak perlu dipelajari yaitu terkait rasa takut, kasih sayang dan amarah.
3 pemahaman Watson tentang behaviorisme :
- Psikologi harus
dengan pengujian yang objektif, harus dengan pembuktian.
- Psikologi tidak ada pengaruh dengan proses mental.
- Para psikolog setuju dengan pendapat pertama tetapi tidak setuju dengan pendapat kedua.
Sumbangan utama Watson adalah ketegasan pendapatnya bahwa
perilaku dapat dikontrol dan ada hukum yang mengaturnya. Jadi psikologi adalah
ilmu yang bertujuan meramalkan perilaku. Pandangan ini dipegang terus oleh
banyak ahli dan diterapkan pada situasi praktis. Dengan penolakannya pada mind
dan kesadaran, Watson juga membangkitkan kembali semangat obyektivitas dalam
psikologi yang membuka jalan bagi riset-riset empiris pada eksperimen
terkontrol.
Komentar
Posting Komentar