MATERI 14 PSIKOLOGI UMUM 1
PSIKOLOGI GESTALT DAN KOGNITIF
A.
PSIKOLOGI GESTALT
1.
Pengertian Psikologi Gestalt
Psikologi
Gestalt menjelaskan proses persepsi individu melalui pengorganisasiaan komponen
sensasi yang memiliki hubungan atau pola yang menjadi satu kesatuan. Psikologi
gestalt memandang bahwa manusia cenderung melihat sesuatu secara kesatuan dan
tidak terpisah-pisah membantu manusia memahami sesuatu yang melibatkan proses
mental dan juga mencoba menjelaskan ada beberapa elemen yang saling dihubungkan
melalui berpikir dan representasi masalah. Manusia berinteraksi dengan
lingkungannya dan mempersepsikan apa yang terlihat di lingkungannya menjadi
kesatuan yang utuh dan setiap orang mempunyai pengalaman yang berbeda-beda serta
unik.
Psikologi gestalt mengkritik psikologi behaviorisme dan
psikoanalisis yang dianggap hanya melihat perilaku manusia hanya dari sisi
eksternalnya saja. Menurut psikologi gestalt kesadaran tidak bisa direduksi
menjadi elemen tanpa memutarbalikkan arti sebenarnya dari pengalaman .
Psikologi gestalt setuju dengan fenomena experient, karena ketika manusia mampu
memahami bagian-bagian terpisah yang menyatu menjadi satu kesatuan yang
utuh dari lingkungannya dapat membantu manusia dalam memperesepsikan
suatu fenomena. Pikiran melibatkan otak dalam menginformasikan apa yang dilihat oleh mata
dengan mengamati serangkaian elemen individu secara keseluruhan, hal itu
disebut top-down processing.
a. Antecendent
1.) Immanuel Kant
Pengalaman kesadaran adalah interaksi dari
stimulus sensorik dari pikiran. Saat individu mendapatkan stimulus individu
akan menerima sensasi yang kemudia akan merespon dan meneruskan sensasi
tersebut melalui syaraf ke otak untuk diterjemahkan atau dimaknai menjadi
persepsi.
2.) Ernst Mach
Two perception : manusia mempersepsikan sesuatu melalui satu kesatuan.
3.) Christian von Ehrenfels
Persepsi
manusia memiliki “gestaltqualitaten” (bentuk kualitas) tidak memiliki sensasi
yang terisolasi.
4.) Max Weitheirmer
-Menurut Max Weitheirmer, persepsi terstruktur karena manusia dapat
mengubah persepsinya, sedangkan stimulus sensori tidak terstruktur.
-Phi Phenomenon adalah jika dua stimulus optik yang berdekatan bergerak secara bergantian dengan frekuensi relatif tinggi menjadi rangkaian gerakan yang dinamis membentuk suatu gerakan semu.
-Low of fragnance yaitu,
manusia cenderung ingin memahami sesuatu dalam bentuk yang sederhana dan
terstruktur.
-Mata
manusia cenderung menemukan kesederhanaan dan keteraturan dalam bentuk-bentuk
yang rumit karena mencegah terjadinya kesalahan dalam persepsi.
b. Teori-Teori lainnya
1.) Persepsi
a.) Perceptual Concistency
Kecenderungan untuk melihat objek yang familiar memiliki bentuk, ukuran, warna, atau lokasi terlepas dari perubahan sudut perspektif, jarak, atau pencahayaan.
b.) The figure-ground relationship
pertimbangan mata dalam memandang objek berdasarkan wilayah disekitarnya. Setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan ground (latar belakang). Prinsip ini menggambarkan bahwa manusia secara sengaja ataupun tidak memilih serangkaian stimulus, mana yang dianggapnya sebagai figure dan mana yang dianggap sebagai ground.
c.) Perceptual Organization
- Principle of Continuity
Kerja otak manusia secara alamiah melakukan proses untuk melengkapi atau melanjutkan informasi meskipun stimulus yang didapat tidak lengkap.
-Principle of Proximity
Unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.
-Principle of inclusiveness
Individu akan cenderung melihat atau memperhatikan objek
yang ukuran nya lebih besar.
-Principle of Similarity
Individu akan cenderung mempersepsikan stimulus yang sama
sebagai suatu kesatuan. Kesamaan stimulus itu dapat berupa persamaan bentuk,
warna, ukuran dan kecerahan.
-Principle
of Closure
Individu
cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola objek atau pengamatan yang tidak
lengkap. Orang akan cenderung melihat suatu objek dengan bentukan yang sempurna
dan sederhana agar mudah diingat.
d.) Subjective and Objective Reality
Karena
otak bertindak berdasarkan informasi sensorik dan mengaturnya ke dalam
konfigurasi, apa yang individu sadari, dan oleh karena itu apa yang kita
lakukan sesuai dengan pada saat tertentu. Koffka menggunakan fakta ini untuk
membedakan antara geografis dan lingkungan perilaku.
B. PSIKOLOGI KOGNITIF
Psikologi kognitif menjelaskan bahwa proses yang terjadi dalam saat berpikir membentuk perilaku manusia karena dipengaruhi oleh aktivitas otak. Psikologi kognitif menekankan proses-proses mental individu sebagai perilaku yang terkendali dalam mengingat, memproses informasi, berpikir, mengarahkan perhatian, mengambil keputusan, dan kemampuan memecahkan masalah secara sadar.
1. Frederic Charles Bartlett
Menurut Bartlett (1932) informasi selalu dikodekan, disimpan, dan dipanggil kembali dalam prekonsepsi dan sikap individu.
2. Jean Piaget
Piaget berpandangan bahwa anak-anak secara aktif membangun dunia kognitif mereka dengan menggunakan skema untuk menjelaskan hal-hal yang mereka alami. Skema adalah sebuah konsep atau kerangka yang telah ada pada pikiran seseorang dan menata informasi serta menyediakan struktur dalam penafsirannya. Menurut Piaget ada dua proses yang bertanggung jawab atas seseorang menggunakan dan mengadaptasi skema, yaitu :
- Asimilasi
Asimilasi
terjadi ketika individu memasukkan informasi yang diterimanya ke dalam
pengetahuan yang diketahui sebelumnya.
-Akomodasi
Akomodasi
terjadi ketika individu menyesuaikan skema mereka dengan informasi yang baru.
Asimilasi akomodasi berkembang sepanjang waktu dan melalui banyak pengulangan dalam pengalaman hidup individu.
3.
Cybernetics
Bagaimana
proses manusia berpikir dengan melibatkan mesin atau komputer.
4.
Language and Information
Bagaimana
manusia memperoleh bahasa, anak saat lahir mempunyai kapasitas untuk menyerap
bahasa untuk mengkonsepkan bahasa.
·
Komentar
Posting Komentar